Minggu, 31 Desember 2017

Kyou to iu Hi no Rojou ni te

Pada Suatu Hari Di Jalan yang Disebut dengan Hari Ini

Kira-kira apakah gadis itu sudah mendapatkan tubuhnya kembali?

Mungkin saja cerita yang kukisahkan kepadanya tidak ada artinya setelah ia mendapatkan tubuh aslinya kembali, tapi sudah bisa mengeluh sekali saja kepadanya sudah cukup bagiku.

Dan lagi, aku bersyukur akhirnya aku bisa mengucapkan semua keluhanku terhadapnya setelah menjadi telinga pendengar curhatan-curhatannya selama ini pada hari-hari di atas atap itu.


Kalau dipikir-pikir, sejak kapan dan bagaimana bisa aku menceritakan tentang diriku sendiri terhadap orang lain?

Mungkin ini adalah pertama kalinya aku melakukan hal seperti itu.

Kemungkinan besar penyebab aku bisa menceritakan kisah hidupku semulus itu karena orang yang mendengarkannya adalah gadis yang sama liciknya denganku.

Kenapa aku merasa aku dan gadis itu mempunyai kemiripan yang sungguh aneh.

Namun, karena pada akhirnya inilah yang terjadi hal seperti itu tidak penting lagi.

Lampu-lampu pijar di pinggiran jalan menyinari jalanan malam yang kulalui. Kilauan redup dari cahayanya entah mengapa membuatku merasa lega.

Dengan setiap langkah yang kubuat, suara gemaan dari sepasang sepatu botku memberikan perasaan nyaman ke telingaku. Sebelum aku menyadarinya, diriku telah menyukai malam hari.

Malam yang hitam kelam menutupi corak kulitku yang terlihat akan hancur.

Hembusan angin malam memalsukan kata-kata kotorku yang tidak pantas diucapkan.

Kegelapan senyap di malam hari memaafkan hatiku yang begitu menyimpang.

...Sebelum aku menyadarinya, aku telah berubah.

Sungguh mengherankan bagaimana diriku tidak memahami hatinya sendiri.

Aku yang hanya bisa dikenali saat disakiti tidak bisa lagi menemukan kepastian akan keberadaannya sendiri.

Namun, tiada arti yang bisa kudapat dalam memikirkan hal seperti itu terus-menerus.

Tinggal sedikit lagi, semuanya akan berakhir.

Diri kami yang tak berdaya akan hancur karena kegelapan yang lebih menyeramkan daripada malam hari.

...Meski begitu, aku telah melakukan hal buruk kepada anak itu kemarin.

Biarpun hanya mereka saja, aku ingin membantu mereka untuk kabur. Tetapi, pada akhirnya aku tidak bisa melakukan apapun.

Seperti apa yang dikatakan oleh ular itu, [para ular] akan berkumpul di sekeliling [ratu] sesuai instik mereka.

Anak itupun tidak terkecuali.

Aku benar-benar tidak bisa mengubah apapun.

Bahkan saat aku mencoba untuk mengubah sesuatu, entah bagaimana semuanya akan kembali bergerak sesuai alur irama permainan ular keji itu.

Biarpun seandainya kata-kata menyakitkan ular itu adalah kebenaran, tentang penyebab kenapa dunia itu terbuat, kami tidak punya kekuatan untuk melakukan apapun.

Pada akhirnya, kebahagiaan itu apa?

Ketika [ending]-nya sudah ditentukan seperti ini, apakah hal seperti itu dapat dikatakan ada?

Ya. Saat aku menyadari situasi tanpa harapan ini, aku hanya bisa berpikir kenangan-kenangan di rumah itu bagaikan cerita fiksi belaka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki orang lain. Aku berhenti berjalan.

Menoleh ke arah asal suara langkah kaki itu, aku disambut sosok pemuda yang kukenali. Seto.

“Ah~ Akhirnya! Kau di sini toh!”

Katanya, sambil melambai dengan lebar dan berlari menuju ke sisiku.

“Dasar~ aku sudah mencari-carimu sejak aku selesai kerja paruh waktu lho. Kalau kau mau jalan-jalan ke suatu tempat, setidaknya beritau kami dulu! Ini sih terlalu kejam!”

“M-Memangnya kenapa kau sampai perlu melakukan itu? Aku hanya keluar sebentar kan.”

Saat aku mengatakan itu, Seto menggembungkan pipinya.

“Oi! Kau tidak pulang-pulang dan tidak ada menghubungi kami. Semuanya mencemaskanmu karena kejadian kemaren malam tau!”

Menerima rentetan kata-kata membosankan dari Seto, aku merasakan ada sesuatu yang mulai muncul dari dadaku.

Bagaimana bisa dia menggunakan bahasa muluk itu saat dia tidak tau apa-apa?

“Gitu ya, gitu kah. Bla bla bla berisik amat.”

Ketika aku mengatakan hal tersebut, Seto membalasku tanpa peduli apa ang terjadi, “Gaya bicara apa itu~! Kau tau kan aku begini karena aku mengkhawatirkanmu?”

...Walau begini, aku paham apa yang dia maksud.

Tentu aku tau kalau mereka semua mengkhawatirkanku.

Tetapi, tanpa disengaja hati yang bahkan [diriku] sendiri tidak pahami meledak, meluapkan kepedihan tiada tara bersamanya. Aku tidak bisa menahan perasaan-perasaan gelap yang keluar bagai banjir bandang dari retakan jiwaku.

“Menyebalkan sekali! Bisa diam enggak sih!!?”

Teriakkanku menggaung di sekitar jalanan malam.

“Berhenti bicara hal seegois itu saat kau sendiri gak tau apa-apa!! Bicaralah dengan normal! Kau mengkhawatirkanku? Sungguh kata-kata dangkal tak berarti...”

Aku tidak bisa menghalau perasaan yang beruntun keluar dari mulutku. Aku tidak tau lagi apa yang sedang kuucapkan.

“A-Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba...”

“Tolong... berhenti berbicara seperti itu!! Apa... Kenapa... kau”

Aku menekuk lututku ke tanah. Kedua bola mataku menjatuhkan bulir-bulir air mata tanpa seizinku.

“Kenapa kalian semua berubah...? Seto maupun Kido... kenapa tidak ada yang menyadari kepedihanku!? ...Seorang diri menyimpan kebenaran tentang kematian kaka... aku sudah tidak tahan lagi...”

Topengku yang sudah kutempa dengan begitu lama hancur, menyisakan seorang anak cengeng yang menyedihkan.

“Sudah cukup... dunia ini...”

“Kano…”

Menunduk, Seto memeluk punggungku dengan erat.

“Semuanya akan baik-baik saja. Kita semua akan baik-baik saja...”

“Apa... Apanya yang kelihatan ‘baik-baik saja’ untukmu? Sialan...”

Tidak ada yang bisa dibilang [baik-baik saja].

Sebaiknya dunia yang kejam ini segera berakhir. Jika begitu...

“Aku minta maaf karena tidak memperhatikanmu. Padahal kita sudah bersama selama ini...”

Aku sudah tidak mampu lagi membalas perkataan Seto.

“...Percuma. Aku ketakutan... tapi aku tidak bisa memberitaukannya ke siapapun... makanya...”

Di ujung kehancuranku, tanpa menahan diri sedikit pun Seto menepuk-nepuk punggungku.

“Aku mengerti. Maaf sudah membiarkanmu memikul beban berat itu sendirian... mulai sekarang, ayo kita pikul beban itu bersama, oke?”

“... Karena kita saudara.”

Aku merasakan sebuah nostalgia.

Aku teringat waktu-waktu kami berdua masih di panti asuhan, pada malam hari di [kamar 107] di mana kami berdua akan mengobrol dan berbagi rahasia satu sama lain.

“Ini bagus, kan?” aku merasa bagaikan diri kecilku mengatakan hal itu dengan senyum menghias wajahnya.

Aku berjalan bersama Seto menuju markas.

Bagaimana reaksi yang lain saat mendengar hal ini?

Apa mereka akan membenciku? Karena aku sudah menyembunyikan cerita seperti ini dari mereka semua.

“Itu tidak akan terjadi. Jangan khawatir!”

Aku terkejut saat aku mendengar balasan Seto.

“K-Kau sedang menggunakan kemampuanmu? Aku jadi canggung karena sudah lama sekali sejak pikiranku dibaca olehmu seperti itu...”

“E-Eh!? Bukannya tadi kau yang memintaku mendengarkan pikiranmu!?”

“Uahh! Yang itu sudah selesai, oke...! Tolong jangan beitau hal itu di depan yang lain, yah?”

“Ha ha ha! Aku takkan bilang! Ini rahasia antar lelaki!” kata Seto dengan wajah yang bersinar.

Namun, kepalaku masih tertunduk karena malu. Aku sudah melakukan hal-hal yang memalukan di depannya...

“Ah~ aku benar-benar bertingkah di luar karakter. Haa...”

“Gak apa, kan!? Sekali-sekali!”

Dia tetap ceria walau sudah mendengar ceritaku. Apa dia benar-benar mengerti seberat apa situasi kami sekarang?

Tetapi, meski dia mengerti mungkin dia akan tetap memasang tampang itu. Bocah cengeng yang tidak bisa melakukan apa-apa selain bersedih kini tumbuh menjadi seorang pemuda yang dapat diandalkan.

Tanpa ada rahasia lagi di antara kami, kami berbincang dengan satu sama lain ketika kami melihat ada sosok hitam yang berdiri di depan mesin penjual otomatis.

“Uwaah... orang yang merepotkan telah muncul...”

Saat orang itu menyadari keberadaanku dan Seto, dia menderap dengan kencang ke arah kami.

Rambut hitamnya yang panjang diikat menjadi kuncir dua yang menawan. Gaun Rumah Sakit yang dia kenakan terombang-ambing bersamaan dengan langkah kakinya.

“… Eh? Siapa orang itu?”

“… Ene-chan.”

Sesaat aku menyelesaikan kalimatku, otak Seto berhenti bekerja.

Mau bagaimana lagi. Batas antara 2D dan 3D tidak mudah dilewati. Tidak akan ada orang yang bisa memahami keadaannya dengan mudah.

 “Ehhhh!? Bukannya Ene-chan seharusnya lebih… kecil…?”

“Siapa tadi yang kau panggil kecil? Huh?”

Gadis yang memiliki mata tajam itu sekarang berdiri di samping kami. Lototan matanya menusuk Seto dengan kuat.

“Tidak, bukan apa-apa!? Ah, maksudku, uh yah~...”

Seto yang tidak tahan dengan tekanannya memalingkan wajahnya dari tatapan itu.

“... Kenapa kau tidak memperkenalkanku sebagai ‘Takane-san’?”

Takane-san membuat raut muka asam saat menanyakan hal itu kepadaku.

“Soalnya... terlalu merepotkan... Gak masalah, kan? Hmm~ ...karena Takane-san adalah cara kaka memanggilmu... Oke, mulai sekarang kami akan memanggilmu Takane-chan!”

“Aku lebih tua dari kalian tau...!” dia bilang begitu, tapi dia tidak menolak panggilannya...

“Setelah kupikir-pikir, apa yang terjadi denganmu? Ekspresi wajahmu terlihat lebih hidup sekarang, padahal baru saja tadi kau terlihat seperti mau mati...”

“M-Masa sih~ setelah kau pergi ada berbagai hal yang terjadi. Oh, tolong jangan ceritakan kepada siapapun soal apa yang kuberitau kepadamu, yah...”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Takane-chan sudah mengeluarkan seringai jahat yang menjanjikan kejahilan. Kepribadian gadis ini sungguh menyimpang. Mirip seperti diriku yang terbelah dua.

“Ohoho~? Apakah kau malu sudah berpura-pura menjadi kakakmu lalu pergi ke sekolah? Jadi gitu toh~”

Dia sama sekali tidak menyembunyikan kedengkian dari suaranya.

Sirine bahaya berbunyi di kepalaku. Seharusnya aku tidak mengatakan apapun ke gadis ini. Situasiku sekarang tidak ada bedanya dengan tikus yang akan dimangsa oleh kucing.

“Hmm~ Seingatku ada seorang gadis yang tingkahnya jauh sekali dari dirinya yang sebelumnya... sangat riang dan gembira, gadis yang meneriakkan [Master!] tanpa tau malu, bukan begitu [Ene-chan]?”

Setelah aku selesai mengucapkan kalimat itu, Takane-chan merunduk ke tanah dan mulai merangkul kepalanya.

“Aku mau mati aku mau mati aku mau mati aku mau mati...”

Sepertinya aku berhasil meluncurkan serangan balasan.

“ARGHH!!! Apa yang harus kulakukan sekarang? Oke, aku akan berhenti! Aku pasti akan berhenti!”

Yah, mau bagaimana lagi?

Berkeliaran ke sana kemari dan terus-terusan mengatakan “Master! Master!” kepada orang yang sangat kau tidak sukai sampai kau tidak tahan melihatnya dalam waktu yang lama...

... Benar juga, aku harus meminta maaf kepada Shintaro-kun.

Biarpun aku tidak berharap dia akan menerima permintaan maafku atau semacamnya, aku perlu memberitaunya tentang apa yang sebenarnya terjadi...

“Ada apa? Apa kau cemas?”

Seperti berempati kepadaku, Takane-chan yang tadinya merangkul kepalanya mendongakkan kepalanya untuk menatapku.

“...Yap. Aku tidak bisa menyangkal kalau aku memang telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan kepadanya.”

“Memang benar~ Tetapi dia bukanlah orang bodoh. Kalau kau menjelaskan situasinya dengan baik-baik, aku yakin dia pasti akan mengerti.

Aku sendiri pun memiliki berbagai hal yang perlu kuberitaukan kepadanya apapun yang terjadi. Makanya, ayo kita bicara kepadanya bersama-sama!”

“...kelihatannya kita memang perlu melakukan itu, ya.”

Dibandingkan denganku, Takane-chan memang lebih memahami Shintaro-kun.

Karena mereka sudah menghabiskan waktu bersama cukup lama.

“Ah, tapi tetap saja, sudah kuduga... saat aku kepikiran tentang anak itu aku rasa aku ingin meneriakinya...”

Bersamaan dia mengucapkan perkataan itu, mendadak Takane-chan kembali merangkul kepalanya.

“Eh? Kalau begitu apa artinya kata-kata motivasimu tadi! Dan apa? Bagaimana bisa kau muntah saat kau tidak memakan apa-apa selama dua tahun!?”

“Sebelum aku ke sini aku makan semangkok ramen.”

“Uangnya gimana!?”

“Arrghhh~! Kenapa kau ribut sekali sih!? Apa kau tau seberapa lama aku bertahan hidup tanpa memakan apapun!!? Dua tahun tau!? Dua tahun!! Aku perlu menjalani hidup tanpa semangkok ramen chasuu sama sekali tau!!?”

“Bukan itu maksudku. Bagaimana dengan uangnya…”

Saat kami sedang berada di tengah-tengah perdebatan kami, Seto mengangkat tangannya tanpa suara.

Kalau kupikir-pikir, kami sama sekali melupakan Seto yang sedari tadi berdiri bersama kami.

“Ada beberapa hal yang tak bisa kupahami dari cerita kalian...”

Kata Seto yang terlihat pusing.

Memang kami bisa menjelaskan apa yang terjadi kepadanya sekarang, tetapi akan lebih baik jika kami kembali ke markas dulu. Kami bisa mengadakan sesi penjelasan besar-besaran di situ.

Itu yang kupikirkan, tetapi sudah diduga dari seorang Seto, dia tidak membaca pikiran orang lain tanpa izin seperti tadi.

“...Yah, mengesampingkan pembicaraan kami, setelah ini situasinya akan menjadi sangat gawat. Jadi, kita perlu pulang dulu, oke?”

Takane-chan dan Seto terdengar mengatakan “Siap,” di waktu yang sama untuk membalas perkataanku.

“Ah, apa kau sanggup untuk melakukan semua ini, Takane-chan? Soalnya kau baru saja mendapatkan tubuhmu kembali.”

Mendengar pertanyaanku, Takane-chan mengeluarkan suara “Hmph!” sambil melipat tangannya.

“Tentu~! Aku juga ada janji dengan Ayano-chan. Untuk sekarang, ayo kita hajar om-om jenggotan itu! Ya, aku tidak akan puas sebelum aku bisa menghajarnya habis-habisan!!”

Bara api yang muncul di mata Takane-chan membuatnya kelihatan seperti tidak memahami apa yang sedang terjadi, tetapi melihat situasi kami, dialah orang yang paling bisa diandalkan sekarang.

“Aku juga akan mencoba menjelaskannya kepada Marry! Soalnya kau tau kan~ mungkin saja nanti kita akan tertimpa masalah, tetapi aku percaya kita bisa melakukan sesuatu dengan kekuatan semuanya!”

Seto menepuk punggungku selagi ia mengatakan hal itu.

“Sakit, sakit... Yah~ sungguh~ aku merasa seperti orang bodoh sudah memikul semuanya sendirian...”

Setelah mengatakan itu kepada diriku sendiri, entah bagaimana tanpa sengaja sebuah senyuman muncul di wajahku.

Perlahan kami melangkah menuju akhir dunia ini, tetapi tidak ada yang berubah.

Dulu aku salah kaprah dan memikirkan [semuanya sudah berubah, aku kesepian!] tetapi pengalaman itu bukanlah hal yang buruk.

“Heh~ Jadi gitu toh tampakmu saat tersenyum.”

Takane-chan menatapku dengan pandangan terhibur di matanya.

“Eh?”

“Yap~! Kano pemalu, jadi dia jarang sekali tersenyum.”

Mendapatkan komentar seperti itu, seketika wajahku mulai memanas.

“Oh~? Aku sudah melihatnya loh~ tidak berguna menyembunyikannya dengan kemampuanmu.”

Takane-chan tidak buang-buang waktu saat membuat seringai jahat dan mempermainkanku.

“B-Bebal deh! Ayo, kita harus bergegas pulang!”

“Siap! Urrrgh~ tapi aku lapar! Sebelum pulang ayo kita makan! Makan bersama!”

“Tadi kan aku bilang aku sudah makan ramen…”

… Kaka.

Apa kau melihat kami sekarang, kaka?

Tempat tinggal kami sekarang menjadi lebih sibuk dibandingkan yang dulu, tetapi kami tidak begitu berubah.

Dari hari ini dan ke depannya, aku pikir kami tetap akan terus memainkan organisasi rahasia ini. Kami terlihat seperti anak-anak, bukan?

Sebentar lagi aku akan menceritakan semuanya ke [orang itu], lelaki yang sangat kaka sayangi.

Biarpun pada akhirnya aku berpikir dia bukan orang yang berguna dan jujur kupikir dia agak menjijikkan, dia adalah orang yang menarik.

Aku rasa jika itu dia, dia akan pergi dan membawa kaka pulang dari renggutan ayah ataupun dunia itu. Ini sungguh kisah yang aneh.

Oh iya. Nomor kaka... Nomor 0 sudah lama tidak digunakan.

Karena itu, saat kaka kembali ayo kita mainkan permainan pahlawanan-pahlawanan konyol ini bersama semuanya!

Untuk itu, kumohon tunggulah kami...


Kumohon tunggulah kami untuk sebentar lagi saja, kaka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar